Malang – Bromo – Batu – Surabaya (Hari Ke-4)

Hari keempat dan jadi hari terakhir kami liburan. Bangun dengan sedikit malas dan perut lapar ahahaha. Untung saja di hotel yg kedua ini include breakfast.

Jam 9 kami sudah berkumpul lagi di lobby untuk segera meluncur ke tujuan terakhir, yaitu Nasi Udang Bu Rudy. Sesuai prediksi, rameee πŸ˜€

Nggak hanya menjual sambel bu rudy yg terkenal itu, di sini juga ada beberapa pedagang kecil di pelataran. Seperti, pedagang kue lumpur, pukis, carabikang, ote-ote dan juga gorengan. Di dalam juga bisa memesan nasi udang dan ada tempat untuk makannya. Awalnya saya malas masuk, nitip aja oleh-olehnya ke temen-temen yg memang masih lapar dan penasaran sama nasi udangnya. Tapi karena agak lama di dalam, saya pun akhirnya menyusul masuk.

Ternyata di dalam tidak terlalu crowded seperti tampak dari luar. Mungkin strategi juga kali ya, biar terlihat ramai. Jadi kasir hanya dua, tempat untuk packing oleh-oleh ada di depan pintu masuk dan juga tempat untuk display lauk pauk yg bisa dimakan di ruang makan ada di dekat pintu masuk. Hmmm ribet deh ahahaha.

Dari sana kami tidak ada tujuan lain lagi. Karena flight juga jam 1 dan bandara tidak begitu dekat. Secara di Jakarta sering macet, agak parno juga sih kita makanya pengen cepet-cepet sampai bandara ehehehe.

Untuk jalan pulang, kami memilih menggunakan Batik Air. Lebih lega lah ya dibanding Sriwijaya Air. Dapat snack-nya juga nggak cuman satu ahahaha.

Dan berakhirlah liburan singkat kami. Semoga masih ada liburan lainnya, mari nabung dulu ! πŸ˜‰

wefie eperiweeerr :*:*:*

wefie eperiweeerr :*:*:*

DSCF6391

what a beautiful sky

disambut dengan hujan deras di Jakarta

disambut dengan hujan deras di Jakarta

Advertisements

Malang – Bromo – Batu – Surabaya (Hari Ke-3)

Sabtu, 1 Mei 2015 menjadi hari terakhir kami berpetualang di Malang – Bromo – Batu. Siangnya kami akan check-out dan berpindah ke Surabaya. Untuk perjalanan kami ke Surabaya dan selama di sana kami juga minta tolong Mas Rissen untuk mengantar. Tarifnya masih sama, 450 ribu untuk 24 jam non BBM. Murahnyooo ehehehe

Karena semalam belum kesampaian makan Bebek Sinjay, maka kami pun meminta Mas Rissen untuk mengantar kami ke sana. Diantara kami bertujuh, si pacar dan Desi tidak bisa makan bebek. Tapi katanya di Bebek Sinjay ini ada menu ayam. Maka tidak masalah kalau kami makan di sana. Ternyata, setelah sampai di sana menu ayam sudah habis 😦 Alhasil, si pacar dan Desi tidak ikut makan. Mereka memilih untuk agak sedikit menahan lapar. Untung saja sebelumnya kami sempatkan mampir ke toko oleh-oleh. Karena kepepet, tidak apa-apa deh sebagian kecil oleh-oleh dimakan dulu buat mengganjal perut πŸ˜€

Harga nasi + bebek + minum (air mineral / teh botol) cukup murah, yaitu 25 ribu. Porsinya juga pas. Yg jagoan adalah sambalnya. Pedeeess tapi memang itu ciri khas mereka ya. Alhamdulillah puaaass

Tepat setelah kami akan beranjak, hujan turun dengan deras lagi. Semoga tidak ada macet ya, karena jam keberangkatan kami dari Malang tadi cukup siang. Kalau kemalaman kan jadi nggak bisa nongkrong-nongkrong dulu di tempat gaulnya Surabaya *halah*

Di pertengahan antara Malang – Surabaya kami mampir lagi ke Kepiting Cak Gundul. Si pacar sebenarnya sedang tidak bisa makan kepiting, karena terakhir kali dia makan, alergi menyerang. Tapi ketika kami melihat di menu, ada menu selain seafood. Kami memesan 3 menu untuk berdelapan: Kepiting Asam Manis, Kepiting Mentega dan Cumi-Cumi Asam Manis. Namun, akhirnya hanya saya, Astri, Wendy, Desi yg stayed untuk menghabiskan menu raksasa tersebut. Karena malam sebelumnya Acit muntah-muntah karena memakan udang yg masih setengah matang dan si pacar juga sepertinya masih agak trauma dengan menu kepiting, maka mereka berempat berpindah ke Warung Bu Kris. Ya sudah, yg penting semua senang, perut kenyang, hati tenang πŸ™‚

Penampakan jarak jauh

Penampakannya :9

Pukul 8 malam kami sampai di penginapan. Dan sekali lagi kami memanfaatkan agoda.com untuk booking. Kami memilih Sahid Gunawangsa Hotel dan memesan 3 kamar deluxe. Dari luar sih hotel ini lebih modern dari hotel yg pertama. Ekspektasi kami kamarnya cukup luas, tapi ternyata kamarnya standard. Di awal reservasi juga agak bermasalah dengan receptionist. Sebelumnya saya memang sudah telepon untuk konfirmasi dan sekalian booking untuk lantai yg sama. Pihak mereka meng-iya-kan kami bisa berada pada lantai yg sama. Nyatanya, ada satu kamar yg berbeda lantai. Walaupun hanya berbeda satu lantai, tapi tetap saja saya kesal karena mereka hanya memberikan janji belaka…ka…ka… Mana si mba receptionist-nya nyolot bener. Beeeuuhh kondisi capek dan agak lapar (lagi) ada yg nyolot begitu, jadi pengen mengeramasi dia. Pake air keras huahahaha.

Pukul 9 malam kami sudah bergerak lagi untuk mulai menjadi Anak Gaul Surabaya *apeu* . Karena tidak ada tujuan, ujung-ujungnya malah ke Surabaya Town Square (Sutos). Memenuhi hasrat si pacar yg mencari Starbucks dari kemarin, maka kami mendarat sementara di tempat kopi itu. Berlanjut ke Zangrandi Ice Cream untuk memenuhi rasa penasaran Wendy. Karena bingung mau ke mana lagi, saya dan Astri memberi ide untuk supper di Rawon Setan. Akhirnyaaa makan rawon terkenal ini juga ahahaha. Cukup menyenagkan lah ya liburannya nih kalau keinginan-keinginan kami dapat terlaksana πŸ™‚

Malam minggu yg berbeda, malam minggu bukan di Jakarta, malam minggu dengan orang-orang yg menyenangkan, kurang perfect apalagi cobaaakk ? *yaelah*

Kembali ke hotel dengan hati riang, meskipun agak sedih karena esok hari liburan akan berakhir. Dan tujuan terakhir kami di Surabaya tidak lain tidak bukan adalah………..apa ya ? Next post, okay ? πŸ˜‰

Malang – Bromo – Batu – Surabaya (Hari Ke-2)

Sekitar pukul 12 malam, Mas Febri salah satu tour guide kami, mengetuk pintu kamar kami. Jadwalnya sih jam 1 kami berangkat, tapi tahu sendiri kan kalo wanita-wanita tuh suka agak lama persiapannya ahahaha.

Tepat jam 1 dini hari kami siap berangkat dari guest house. Awalnya kami pikir kami akan naik mobil Innova sampai ke rest area di dekat Bromo baru nanti di sana berganti naik jeep. Ternyata tidak. Sejak dari guest house kami sudah diangkut dengan hardtop. Wiiiii seru nih pasti. Jalan-jalan di Malang pakai mobil beginian ahahaha *norak*

Driver hardtop kami namanya Mas Ahmad. And he is so kind and humble. Ah, terharu deh kalo ketemu orang-orang baik kayak gini. Bisa dengan mudahnya sharing cerita pengalaman-pengalaman dia selama jadi driver. Jadinya kan nggak kaku gitu. Oh iya, kalo kata Mas Rissen, bakal lebih murah kalo naik hardtop / jeep dari awal. Tapi emang sih harus punya kenalan di rest areanya. Soalnya kalo nggak ada kenalan, bakal dipersulit sama “penguasa” di sana. Yaiyalah, kan jadi mengurangi penghasilan mereka lewat penyewaab jeep ehehehe.

Perjalanan ke Bromo menempuh waktu kurang lebih 2 jam ++. Dan berhubung saya pelor (kebangetan emang), saya tidur dengan posisi duduk menyamping kayak di angkutan kota dan kondisi jalan yg parah rusaknya. Teman-teman saya saja heran, kok bisa saya tidur senyenyak itu ahahaha. Hanya pacar saya saja yg nggak heran. Karena dia sudah hapal dan “memaklumi” kepeloran saya ini :p

Ada dua rest area yg kami lewati. Rest area pertama adalah tempat jeep parkir dan menunggu calon penumpangnya. Rest area kedua tempat kami mengisi perut dan menghangatkan badan sebelum sampai ke penanjakan. Karena di rest area pertama numpang lewat doang, jadi nggak ada fotonya deh. Tapi kalo yg di rest area kedua, kami semua turun untuk sekedar ngemil atau pesen minuman hangat.

Sok kuat belum pake jaket, padahal yg lain udah full package :D

Sok kuat belum pake jaket, padahal yg lain udah full package πŸ˜€

Dari rest area kedua ini katanya tinggal 15 menit lagi. Ternyata lebih dari 1 jam sampai ke penanjakan. Okay fine Mas Ahmad, aku ngambek ahahaha. Untungnya udah sempet minum teh dan icip-icip mie instan jadi ya nggak rewel-rewel banget kami ini nempuh perjalanan 1 jam lagi. Jangan ngambek dan rewel dulu sih harusnya, karena sesampainya di sana bakal disuguhi pemandangan yg Subhanalloh :’)

Hardtop kami parkir di penanjakan 1. Astri dan Desi berhenti sampai di sini saja, karena Astri masih recovery dari sakitnya dan Desi sedang hamil 4 bulan, jadi kedua wanita ini nggak boleh capek. Alhasil, saya jadi wonder woman bersama dengan pria F4 untuk naik sampai ke penanjakan 2. Untungnya masih suka yoga seminggu sekali, jadi nggak terlalu berat untuk nanjak ke atas. Yg bikin berat justru saat saya harus mulai pakai jaket. Iya, hawanya makin dingin. Harus pake jaket dan jadi kebelet pipis juga. Ada toilet nggak gratis di situ, lumayan juga bayarnya, 5000 sist :s

Dan inilah penampakan sunrise yg agak tertutup mendung:

5:07

5:07 di penanjakan 2

5:25

5:25 di penanjakan 2

6:05 di penanjakan 1

6:05 di penanjakan 1

Setelah puas menikmati pemandangan dari penanjakan 1 ataupun 2, selanjutnya kami menuju padang savana. Kalau dari foto terakhir, itu lho yg hamparan luas di background kami. Gunung yg terlihat itu namanya Gunung Batok. Bagus yaaa

Selain padang savana, kalau memang masih kuat nanjak-nanjak, bisa lho menghampiri kawah Bromo. Untuk sampai ke sana harus menaiki kurang lebih 200 anak tangga. Awalnya saya sendiri nih dengan egoisnya meninggalkan teman-teman yg memang tidak berminat untuk menghampiri kawah Bromo. Tapi baru sampai setengah jalan sudah menyerah ahahaha. Sebenarnya ada penyewaan kuda dengan harga 50 ribu. Diantar sampai ke anak tangga paling bawah. Lumayan mengirit tenaga, tapi kok rasanya kurang gentle gitu. Semoga lain kali saya bisa sampai ke atas sana tanpa naik kuda ya.

Dasar kami ini tidak tahan sama kamera, bukannya memuaskan hasrat menikmati pemandangan di alam sekitar, malah sibuk foto-foto ehehehe.

melompat lebih tinggi

melompat lebih tinggi

yoga, everytime and everywhere :D

yoga, everytime and everywhere πŸ˜€

Bukit Teletubbies jadi tujuan kami selanjutnya. Sebelumnya belum pernah browsing nih Bukit Teletubbies seperti apa bentuknya. Dan subhanalloh ! Tempat ini bagus bangeeett… Keluar dari hardtop disambut dengan jernihnya udara yg kami hirup dan sunyinya suara tapi yg ada hanyalah kedamaian hati *ceileh* Langsung kepikiran kalau di hari tua nanti inginnya tinggal di tempat semacam ini. Jauh dari hiruk-pikuk kota yg sangat bersahabat dengan kebisingan itu *sigh*

agak mendung tapi tetep kereeenn

agak mendung tapi tetep kereeenn

gaya andalan kalo foto bareng, angkat satu kaki :D

gaya andalan kalo foto bareng selain lompat, angkat satu kaki dimiringin πŸ˜€

Bukit Teletubbies jadi tempat terakhir kami berwisata di Bromo. Paket tur yg kami ambil memang hanya untuk di Bromo saja. Harga paketnya 450 ribu termasuk homestay tadi. Buat kami harganya masih wajar. Kalau ada yg berminat, bisa nanti tanya ke saya ya untuk PIC-nya πŸ˜€

Kami kembali ke homestay dengan keadaan lapar dan kucel *lapar melulu*. Sehabis check-out dari homestay kami akan pindah ke penginapan lain yg bukan termasuk ke dalam paket.

Berhubung lapar sekali, kita akhirnya berhenti dulu di salah satu rumah makan pinggir jalan. Memang sengaja mencari makanan berkuah (selain bakso) biar agak menyegarkan badan dan pikiran *halah*. Selain soto ayam dan daging, rumah makan ini juga menjual tahu tek-tek. Endeeess

penampakan tahu tek-tek

penampakan tahu tek-tek

Penginapan kami berlokasi di Batu. Namanya Kampung Lumbung Boutique Hotel. Setelah masuk, langsung check-in di receptionist yg tidak jauh dari gerbang masuk. Kami melakukan pemesanan untuk penginapan ini di agoda.com. Kami memesan 2 kamar tipe deluxe dengan tambahan 1 extra bed di salah satu kamar (kami bertujuh). Tiap kamar diisi dengan 1 double bed dan 1 single bed. Ukuran kamar seperti yg diinfokan di situs agoda 36 m2, seperti satu ukuran apartemen tipe studio. Untuk kami bertiga ini cukup besar. Dilengkapi dengan fasilitas lemari es dan TV juga. Non-AC sih tapi memang tidak diperlukan. Udah dingin cuy. Yg menyenangkan lagi, perlengkapan mandi yg diberikan seperti sabun cair dan shampoo lebih dari cukup untuk hanya booking 1 malam. Namun, ada satu yg failed. Mereka tidak menyediakan pesawat telepon. Jadi kalau ada apa-apa harus langsung ke receptionist di depan. Agak menyusahkan ya. Saya sih sudah kasih review lewat agoda dan juga complaint langsung ke hotelnya, semoga ya ada perbaikan. Karena overall hotel ini homey banget. Mana ada swimming pool-nya hmmm…

what a view

what a view

pojok yg sini

pojok yg sini

pojok yg sana

pojok yg sana

Kami istirahat sebentar buat meluruskan badan yg agak geser setelah dikocok-kocok sepanjang perjalanan PP Malang-Bromo-Malang ahahaha. Selepas maghrib kami janjian sama Mas Rissen untuk menuju Batu Night Spectacular. Tapi ternyata saat keluar kamar hujan deras datang huhuhu. Akhirnya kami batalkan rencana kami ke BNS dan diganti saja untuk wiskul.

Hasil diskusi, kami ingin makan malam kali ini di Bebek Sinjay, tapi karena Mas Rissen salah paham jadinya malah diajak ke Museum Resto Inggil. Ya sudah lah, ke Bebek Sinjay-nya bisa besok lagi saat menuju Surabaya ehehehe.

Tempat makan ini ternyata nggak mengecewakan. Terima kasih lho Mas Rissen mengantarkan kami ke tempat-tempat enak *buang timbangan* πŸ˜€

ada sindennya

ada sindennya

Menjelang selesai makan, atas rekomendasi teman, kami memutuskan untuk menuju Pos Ketan Legenda yg berlokasi di Alun-Alun Batu. Udah kebayang nih pasti bakal menjadi dessert yg sempurna, secara saya ini penggemar ketan *ngiler*. Tapi keinginan hanyalah keinginan, antriannya nggak nguatin dan kami pun belum benar-benar fit buat jalan-jalan. Ngantuknya nggak nahaaann… Tapi tetep disempetin makan duren 3 biji dulu ke arah jalan pulang ahahaha.

Esok harinya kami akan check-out dan berakhirlah petualangan kami di Malang-Bromo-Batu. Lalu, bagaimana ke-sok heboh-an kami di Surabaya. Lanjut di postingan selanjutnya yaaa πŸ˜‰

Malang – Bromo – Batu – Surabaya (Hari Ke-1)

Apa yg harus dilakukan kalau ada long weekend ? Yak betul. Liburaaann yaaaayyy

Saya dan keenam saya memutuskan untuk traveling ke Bromo di long weekend kemarin, tgl 1 – 3 Mei 2015. Tapi tetep harus cuti sehari sih di tgl 30 April, biar lama liburannya. Selain Bromo, kami juga berencana exploring Malang, Batu dan Surabaya.

Sebagai pelancong yg middle, budget kami pun di tengah-tengah ahahaha. Untuk pergi ke Malang, kita pakai Sriwijaya Air pukul 06.40. Tapi sayang sekali delay karena alasan entah apa. Untung nggak sampai sejam delay-nya.

Kami tiba di Bandara Abdul Rachman Saleh Malang kurang lebih pukul 9 pagi. Cuaca agak mendung. Nggak berpotensi hujan deras sih dan hawa agak dingin. Enak bener deh sejenak lepas dari panasnya Jakarta.

Selepas dari bandara kami lapar dong ya. Nanya temen-temen asli Malang enaknya makan apa dan disaranin makan Pecel Kawi. Baiklah, kami pun meluncur kesana. Jengjeng! Sampai sana habis bzzztt. Pengennya pindah ke Tahu Campur tapi karena lokasinya nggak berdekatan dan kami sangat lapar jadinya ngikut sama si Mas Driver deh ke lokasi makan pilihan dia. Oh iya, Mas Driver kami yg akan setia menemani kami sampai Surabaya ini namanya Mas Rissen.

Kami pun diajak sarapan di Taman Indie.

Good spot at Taman Indie

Good spot at Taman Indie

Ya namanya aja narsis semua, yg ada pada foto-foto dulu. Yg tadinya laper banget jadi agak lupa deh. Habis foto sana-sini baru kerasa lagi lapernya, dan akhirnya kita cari gubug yg view-nya bagus buat makan. Ealaaahh ternyata restonya belum siap buka bro-sis bzzztt. Makin kelimpungan deh kita. Nggak pikir lama langsung pindah ke tempat lain.

Taman Indie ini tempatnya OK dan view-nya juara lho. Sayang ya nggak sempet icip-icip makanannya. Mungkin lain kali kalo dikasih umur bisa deh mampir ke tempat ini lagi.

Susah nemu tempat makan view begini di Jakarta

Susah nemu tempat makan view begini di Jakarta

Rencananya kita mau ke Jatim Park 1 setelah sarapan, jadi nyari tempat sarapannya juga yg searah aja biar nggak bunag-buang waktu. Berhubung pengennya beda-beda, jadi Mas Rissen mendaratkan kami di Bakso Bakar Pahlawan Trip. Menu andalannya jelas Bakso Bakar, tapi ada juga Bakso Biasa (Bakso Kuah), Siomay, Pecel Ayam dll.

Bakso Bakar

Bakso Bakar

Selesai sarapan yg barbar (iya, makannya pada nambah ahahaha) kami langsung menuju ke Jatim Park 1. Awalnya sih agak galau antara Jatim Park 1 atau 2, tetapi setelah melalui perdebatan yg nggak panjang-panjang amat, kami memutuskan ke Jatim Park 1 dengan pertimbangan di sini ada wahana semacam isian Dufan gitu. Biar puas teriak-teriaaaaaaakkk

Tiket masuk per orangnya di weekday Rp 60 ribu. Kalo di weekend Rp 80 ribu. Jam bukanya dari jam 08.30- 16.30 WIB.

Di depan Jatim Park 1 ini ada gong yg dengan relanya dipukul-pukul sama kita ahahaha. Jadi nih gong yg gedhe banget adalah gong kedua terbesar di Indonesia. Dan dengan memukul gong ini, menandakan kami resmi masuk ke Jatim Park 1.

Alat pemukul gong ini agak berat lho

Alat pemukul gong ini agak berat lho

IMG_5051Ternyata setelah masuk ke dalam, tidak hanya wahana semacam Dufan saja yg ada di sini, tetapi ada banyak lokasi untuk di-explore…………………buat foto-foto ahahaha nggak ding.

IMG_5056

Langsung disambut sama beginian pas masuk

IMG_5054

Motor BSA

1. Galeri Budaya

DSCF5952

Astri Si Ratu πŸ˜€

DSCF5963

Djamu Djago

2. Science Center

IMG_5059

Tampak depan Science Centre

IMG_5060

Bagian dalam Science Centre

3. Miniatur Peristiwa SejarahIMG_5066 IMG_5069DSCF5987

4. Expresi KeceriaanIMG_5075

5. Wahana Bermain

Pendulum 360

Pendulum 360

Cuman nyoba satu wahana dan kami semua pun tepar. Iya, sialan banget emang ini wahana. Pendulum 360 namanya. Udah diputer-puter 360 vertical, juga diputa 360 horizontal. Mungkin karena faktor umur ya, tapi kami mabok setelah mencoba wahana ini. Padahal masih banyak wahana lain yg bisa kami taklukkan huhuhu.

Lokasi liburan selanjutnya adalah Museum Angkut.Tiket masuk per orangnya di weekday Rp 60 ribu. Kalo di weekend Rp 80 ribu. Jam bukanya dari jam 12.00 – 20.00 WIB.

DSCF6020DSCF6035DSCF6136

Berhubung saya dan pacar masih mabok, kami memilih untuk beristirahat saja di Pasar Apung Nusantara. Ada berbagai macam makanan di sini. Oh iya, tempat makan ini masih dalam area Museum Angkut. Di sini saya dan pacar sengaja cari makanan yg berkuah pedas untuk menghilangkan mual. Dan lagi-lagi makan bakso ahahaha. Setelah si mual hilang, kita jajan lagi es tong-tong dan bakpao ayam nyam nyaaamm… Mana sedikit gerimis, beeeuuhh makin sok romantis aja nih berdua aja kita di pinggir kolam ahahaha.

IMG_5080 IMG_5081

Hampir 2 jam tim lain exploring Museum Angkut. Menjelang Maghrib saat perut sudah lapar kembali, mereka akhirnya selesai deh dan tujuan selanjutnya adalah tempat makan malam. Hedeeehh emang bener ya kalo liburan tuh pasti makan terus.

Maksud hati mau makan yg khas Malang gitu ya, tapi karena mendadak hujan deras akhirnya Mas Rissen mengajak kami ke tempat makan yg dekat dengan homestay. Nama tempatnya sama seperti tim liburan kami ini “Ria Jenaka” krik krik krik. Si resto Ria Djenaka Shinning Batu ini menawarkan menu beragam. Yg western ada, chinese food ada, italian food pun ada. Harganya mureeehh buat ukuran kami yg diperas dengan harga-harga overpriced di Jakarta ahahaha. Kalap deh akhirnya pesen ini-itu dan kami berdelapan habis sekitar 600 ribuan ehehehe.

Perut kenyang hati senang dan saatnya waktu istirahat. Homestay kami masih termasuk ke dalam paket tour Bromo. Kalo wisata ke Jatim Park 1 dan Museum Angkut tadi nggak termasuk, tapi si Mas Rissen tetep mau nganterin kok ehehehe.

Amryn Luxury Guest House menjadi tempat kami menginap sambil menunggu jam 12 malam sebelum berangkat mengejar sunrise di Bromo. Kamarnya besar dan luas, kamar mandinya juga lumayan lah. Sayangnya, air panas cuman nyala di bukaan pertama. Jadinya mandi dengan kedinginan deh si Astri dan Desi. Saya alhamdulillah kedapetan air panasnya ahahaha maaf ya sist.

Lalu, bagaimana pengalaman kami di Bromo ? Tunggu ya cerita selanjutnya πŸ˜‰

Eternity

LINIMASA

When I was a kid, I always thought that I would end up living with the first person I have a crush on forever, until the end of time.

Of course, the concept of β€œuntil the end of time” at the time was thought to be that we, the two of us, would leave the world together. It never came across my mind on the possibility that one may die sooner than the other. After all, how do you explain such a system to a dreamy 7 year-old boy who is now writing this piece of words you are reading?

And speaking of dreaming, oh yes, I would take a cue from my surrounding and then would spend time daydreaming, making countless spin-offs out of those cues and clues.
For example, I was once fascinated by this watch worn by characters in Voltus that could function as telephone! Being a…

View original post 692 more words

Just Because …

LINIMASA

… because it always feels good to love first, to spare a space in heart and mind solely for one other person, and no one else, just no one else but this special person, he or she who gets us up and about every single day, to think of nothing but giving our utmost thought effortlessly, selflessly, smoothly, and willingly, to initiate help without being asked to, to give without wanting anything in return, to wait in vain without knowing, to anxiously look forward to each and every clue, and also hint that brings joy, all of those without realizing that maybe, subconsciously, we don’t want anything back.

When you have given your love with all your might, perhaps you don’t care about being loved in return.

Love is …

Beeping heart Beeping heart

View original post