Abu-abu

linimasa

DI DUNIA yang dibuat serba putih hitam ini, tak ada yang mau menjadi abu-abu. Cuma ada putih, dan hitam. Kalau bukan putih, ya berarti hitam. Hanya itu pilihannya. Tanpa kompromi, tanpa toleransi.

Di dunia yang dibuat serba putih hitam ini, semuanya ingin menjadi putih, atau setidaknya terlihat putih. Putih perlambang yang baik-baik, meskipun belum tentu berupa kebaikan sungguhan, sementara hitam mengisyaratkan segala keburukan. Semua yang putih disanjung puji, sedangkan yang hitam diperolok dan dipinggirkan.

Tidak ada yang mau jadi orang salah, atau yang dipersalahkan. Karena itu, semua orang berusaha mati-matian untuk tidak salah, dan menghindari kesalahan. Pokoknya, jangan sampai salah, jangan sampai ketahuan salah, atau dipersalahkan.

Caranya bermacam-macam. Kalau belum kejadian, dimulai dari bersikap hati-hati, benar-benar memerhatikan semua tindakan dan perbuatan, hingga menghindari melakukan apa pun kecuali terpaksa. Ketika kesalahan telanjur terjadi, ada yang menerima dan mempertanggungjawabkan perbuatannya, namun ada pula yang pura-pura tidak tahu, menolak dipersalahkan, bahkan sampai “buang bodi” melemparkan kesalahan kepada orang lain dan menempatkan…

View original post 796 more words

Advertisements

Sesekali

linimasa

Once in a while, you find someone you are crazily attracted to.
Someone you are dying to be with every minute of the day.
Someone you have a huge crush on, so huge that you overwhelm yourself with ideas and thoughts far beyond your wildest dreams.
Someone you are mad about.
Someone you crave to have.

When you find that someone, step back.
Don’t move forward, but take a step backward.

Once the euphoria dies down, you begin to see what once was flawless is now flawed.
You begin to see what once was tolerable is now intolerable.
You begin to see what once was lovely is now condemned.
You begin to see what once was compatible is now in doubt.

Everything that looks rosy now looks rotten.

Take a time to think.
Take a time to asses.
Take a time to observe.

When you find the time, step forward.

View original post 139 more words

Mengabadikan Rasa

linimasa

Saya sedang jatuh cinta.

Ya, sepertinya saya memang sedang jatuh cinta.
Saat dada berdebar dalam antisipasi yang tidak pasti,
Apakah hari ini akan bertemu dengan dia,
Atau hanya berjumpa dengan angan-angan saja.

Ah, angan-angan.
Frasa yang membuai saya dalam keheningan malam,
Saat mendekap guling sambil membenamkan kepala dalam bantal sendirian,
Sembari angan berpikir melayang mengayalkan apa yang dia lakukan sekarang,
Lalu tertidur saking lelahnya imajinasi bekerja.

Tapi apa saya merasa capek karenanya?
Justru sebaliknya!

Impian itu yang membangunkan saya di pagi hari,
Dengan senyuman masih tersungging di bibir,
Membayangkan seandainya ada wajah lain di sisi ranjang yang saya lihat pertama kali di pagi hari.

Karena bukan dengan siapa kau tidur semalam yang penting.
Yang penting adalah dengan siapa kau bangun saat matahari menyingsing.

Karena bukan detil nama, alamat, tempat tanggal lahir, dan kata mutiara yang membuat kamu terbuai,
Yang penting adalah khayalan yang kamu ciptakan sendiri dari apa yang kamu…

View original post 296 more words

Selamat Datang Gen-Z!

linimasa

Sementara Millennials sudah masuk kerja dan mengambil alih posisi professional di banyak perusahaan, gelombang berikutnya dalam perkembangan. Seperti biasa, bisnis yang harus menyesuaikan diri. Kalu sejak Generasi-X saja sudah banyak mengeluh, Industri yang seperti ini dijamin akan gulung tikar ketika Millennials membuang muka dari mereka. Bisnis butuh satu dekade untuk memahami Millennials. Sekarang, selamat datang Gen-Z!

image

Generation Z, adalah anak-anak yang lahir akhir tahun 90-an dan awal tahun 2000-an. Masuk usia dewasa di tahun 2010, lalu mencapai usia kerja tahun 2015—2025. Tahun ini, gelombang pertama dari mereka masuk kerja. Dari sini, Millennials harusnya bukan lagi generasi yang aneh. Bisnis yang tanggap akan segera pasang kuda-kuda untuk Gen-Z. Melakukan pendekatan ke sekolah-sekolah dan memperhatikan apa yang mereka inginkan. Pasar akan betul-betul berubah.

Kelompok ini cenderung punya pikiran instan. Mereka lebih dari sekedar tanggap komputer, ponsel, tablet, dan atau video game, tapi lebih terkoneksi dan dipenuhi kesenangan-kesenangan fantasional. Punya kesabaran psikis yang…

View original post 431 more words

Ah, Millennials

linimasa

Selesai libur lebaran, aku menemukan muka-muka baru di kantor. Masih muda. Segar dan berpenampilan kasual. Satu diantara mereka bahkan punya Tatto di wajah. Mereka bawa laptop sendiri. Pakai headphone saat bekerja. Makan siang sendiri. Mejanya rapi. Ndak ada kertas atau alat tulis. Apalagi buku. Bagian personalia bilang, paling cuma dua minggu, liat aja.

Apakah ada yang terbiasa dengan penggolongan generasi? Atau teori gelombang perdadaban? Aku pikir dua faham itu masuk akal. Papaku lahir di generasi Baby Boomers. Beberapa tahun setelah Perang Dunia II. Secara umum, mereka kalangan penyusun ulang pranata sosial yang hancur karena kekacauan dunia. Mama lahir sebagai generasi Jones. Akhir dari masa Baby Boomers. Kakakku lahir di generasi X. Semua serba budaya Pop. Aku sendiri sebagai generasi MTV atau Generasi Y? Masih dalam perdebatan. Karena aku lebih suka Trace Urban dan Iyeth Bustami ketimbang MTV. Mari kita tengok Generasi Y (baca: Millennials).

Masih ada keragu-raguan kapan kiranya Millennials…

View original post 1,180 more words

Kunjungan Malaikat

linimasa

Seandainya Angeline tidak meninggal dan tumbuh menjadi dewasa, dan kemudian membenci orang tua aslinya yang telah menyerahkannya pada orang tua angkat yang terus menyiksanya seumur hidup. Berhak kah Angeline? Perih luka fisik hilang seiring pertumbuhan sel baru. Luka batin dan kenangan buruk, selamanya melekat. Saat Angelin dewasa menyimpan dendam pada orang tua kandung dan angkatnya, berhak kah kita menghakiminya sebagai anak kurang ajar?

Di sekolah, Angeline akan diajarkan untuk menghormati orang tua. Tanpa syarat. Karena di kelas reproduksi dijelaskan bagaimana Ibunya telah mengandung selama 9 bulan dan mempertaruhkan nyawanya saat melahirkannya. Angeline diwajibkan untuk menulis puisi sebagai bentuk penghargaan kepada Ayah yang telah bekerja keras membanting tulang untuk biaya sekolah dan masa depannya. Siapa bisa membayangkan, apa yang akan ditulis Angeline?

Di rumah ibadah, Angeline diwajibkan untuk terus tunduk dan patuh pada orang tuanya. Karena Surga ada di telapak kaki Ibu. Melawan orang tua, apalagi dendam adalah dosa. Dan terkutuklah anak…

View original post 534 more words

Eternity

linimasa

When I was a kid, I always thought that I would end up living with the first person I have a crush on forever, until the end of time.

Of course, the concept of “until the end of time” at the time was thought to be that we, the two of us, would leave the world together. It never came across my mind on the possibility that one may die sooner than the other. After all, how do you explain such a system to a dreamy 7 year-old boy who is now writing this piece of words you are reading?

And speaking of dreaming, oh yes, I would take a cue from my surrounding and then would spend time daydreaming, making countless spin-offs out of those cues and clues.
For example, I was once fascinated by this watch worn by characters in Voltus that could function as telephone! Being a…

View original post 692 more words