Perpanjangan SIM A dan C

Tepat di hari ulang tahun saya yang ke-26 tanggal 11 September lalu, SIM A dan C saya habis. Jumat siang saya segera mengurus ke Polres Banyumas. Saya pun baru ingat kalau KTP saya sudah mutasi ke Jakarta. Akhirnya saya hanya bisa mendapatkan surat pengantar saja untuk mengurus perpanjangannya ke Polres Jakarta Timur.

Seminggu kemudian, pada hari Sabtu lalu, saya dan ditemani pacar menuju Polres Jakarta Timur untuk melakukan perpanjangan SIM A dan C. Sejak hari Senin saya sudah mencoba telepon ke Polres Jaktim untuk melakukan konfirmasi apakah benar untuk pengurusannya langsung di Polres Jaktim, tapi sampai hari Jumat saya menelepon, tidak pernah terjawab. Ya sudah, mungkin memang takdirnya saya harus ngecengin bapak polisi di Polres Jaktim. πŸ˜€

Sekitar pukul 07.30 saya jalan dari kost menuju Polres Jakarta Timur. Karena masih pagi, jalanan lancar saja, weekend pula, jadi pacar tidak terlalu ribut deh hehe. Sampai di sana, kok sepi ya ? Feeling saya sudah tidak enak nih. Jangan-jangan memang bukan di sini tempat perpanjangan SIM-nya. Benar saja, setelah bertemu dengan bapak polisi di sana, saya diarahkan untuk menuju Satpas Daan Mogot. Buseeett, pacar saya dari Tanjung Duren menjemput saya di Tanah Abang, lalu kami menuju Matraman dan akhirnya balik lagi ke daerah Jakarta Barat tepatnya di Daan Mogot. 😐

Dengan agak mengebut, kami menuju ke Satpas Daan Mogot. Saya khawatir kalau terlalu siang antriannya bisa melebihi antrian sembako. Sesampainya di sana, sudah banyaaakk orang haha. Segini banyaknya orang yang membuat SIM baru ataupun perpanjangan. Pantas saja Jakarta makin macet tiap harinya.

Proses perpanjangan SIM A dan C, sama saja. Urutannya sebagai berikut:

  1. Menuju loket pendaftaran untuk mengambil formulir. Di loket ini membayar uang pendaftaran sebesar Rp 25 ribu.
  2. Antri untuk melakukan tes kesehatan. Saya pikir tesnya bermacam-macam, ternyata hanya tes mata saja. Tidak perlu mengantri lama, karena tesnya juga sepertinya hanya formalitas saja haha.
  3. Pindah ke gedung lain, langsung menuju ke loket BRI untuk membayar biaya administrasi perpanjangan SIM. Untuk SIM A dikenakanΒ  biaya Rp 80 ribu dan untuk SIM C Rp 75 ribu.
  4. Antri di loket asuransi. Biayanya Rp 30 ribu per SIM. Jadi total saya bayar Rp 60 ribu.
  5. Mengambil formulir untuk perpanjangan. Formulir ini berbeda lagi dengan formulir yang pertama saya ambil di loket pendaftaran.
  6. Menuju loket 18 dengan menyerahkan kuitansi bayar-bayar tadi dan juga formulir perpanjangan ditambah fotokopi KTP 2 lembar.
  7. Menuju loket 16 untuk foto. Loket 16 ini khusus loket foto wanita. Antriannya tidak panjang dan ruangannya ber-AC πŸ˜€
  8. Karena ada kesalahan sedikit (tertulis Pria bukan Wanita 😐 ) maka saya menuju loket 13 terlebih dahulu untuk melakukan koreksi.
  9. Menunggu panggilan SIM jadi di ruang tunggu loket 31 atau 32.

Dan jadi! Prosesnya tidak terlalu lama kok. Tapi memang banyak orang yang mengurus hari itu dan hanya ada kipas angin di dalam gedung. Untung saja atapnya agak tinggi sehingga tidak terlalu panas ruangannya.

Buat yang mau mengurus SIM, ingat ya harus ke Satpas Daan Mogot, bukan ke Polres masing-masing πŸ˜€

Advertisements

Pindah Dokter Gigi

Demi menunjang penampilan yg pas-pasan, saya memutuskan untuk memasang behel πŸ˜€

Rencana untuk pasang behel sih sudah dari jaman kuliah, tapi baru terlaksana bulan April 2014 lalu. Baru ada duit dan rasanya lebih puas kalau pakai duit sendiri ya ehehehe.

Karena dua teman saya sudah punya orthodontist langganan, saya pun akhirnya pasang behel di sana juga. Dokter ini praktek di Jogja dan Jakarta. Salah satu teman saya yg sudah pasang dari jaman kuliah pun berusaha merayu si dokter biar kasih harga Jogja. Dan dapat aha !

Awal-awal saya kontrol dua minggu sekali, tapi setelah bulan kedua kontrol jadi sebulan sekali. Sebagai orang awam (dan sayangnya kurang kritis) saya manut aja. Hasilnya juga cepet sih, Gigi atas dan bawah cepet rapinya. Eh iya, gigi saya dicabut empat buah. Uuuuuggghhhh sakitnya berasa banget setelah biusnya hilang. Tapi untungnya dikasih obat ya.

Di bulan November kemarin, ternyata Dokter saya ini memasangkan per di gigi bawah sebelah kanan. Saya juga baru tahu setelah sudah selesai dipasang. Saya nggak tahu juga nih maksudnya apa dipasangin per. Dan (bodohnya) nggak nanya juga ke si Dokter. Pikir saya waktu itu nggak mungkin dong ya Dokter saya ini iseng atau apa. Yakali pengen bikin gigi saya berantakan lagi kan nggak mungkin juga (semoga).

Sampai pada saat itu sebenernya nggak ada masalah ya dengan si Dokter. Tapi di luar sikap profesional dia, ada satu kelakuan yg nggak bisa ditolerir. Dokter ini suka “berlebihan” kalau saya lagi kontrol. Berlebihannya itu gini, dia suka pegang-pegang tangan saya dengan tidak wajar. Risih lah ya. Mau pindah dokter tapi kemana juga belum tahu. Dua teman saya yg lain juga sepertinya nggak ada keluhan dengan kelakuan minus si Dokter ini.

Lalu di Desember kemarin salah satu teman saya yg sudah pasang sejak jaman kuliah akhirnya lepas behel juga hore ! Saya ikut senang deh. Jadi pengen cepet-cepet lepas gitu ahahaha. Dan teman saya ini malah menyarankan saya pindah dokter saja. Singkat cerita, dia ternyata juga “digangguin” sama di Dokter. Pffftt.

Cari tahu info ke sana ke mari, alhamdulillah ya akhirnya saya dapet Dokter baru. Dokternya temen kantor saya. Dan kali ini perempuan. Aman lah ya ahahaha.

Tanpa tedeng aling-aling saya langsung pindah aja, nggak minta rekam jejak *halah* selama di Dokter lama.

Tadi malam bersama dengan teman kantor saya, akhirnya saya pindah dokter. Yay !

Dokter yg sekarang ini lebih ramah dan tanpa perlu ditanya mau ngasih tau dari A-Z tentang pergigian. Keputusan saya tepat nih ya. Woo-hoo !

Semoga nggak perlu waktu lama ya untuk lepas behel. Kata si Dokter baru juga gitu sih. Maksimal 2 tahun lagi kalau sayanya rajin. Tenang Dok, saya siap rajin kontrol kok πŸ˜€

Mimpi Nikah

Semalam tidur dengan memikirkan pacar yg belum kasih kabar sudah sampai kost atau belum. Sudah menjadi kebiasaan memang saya baru bisa tidur kalau sudah memastikan pacar aman dan selamat sampai kost *lebay*. Tapi karena sangat mengantuk saya pamit tidur duluan. Terbangun jam 11 karena AC mendadak begitu dingin dan pacar sudah memberi kabar. Lebih tenang jadinya.

Saya selalu bermimpi. SELALU. Bahkan kala tidur hanya 5 menit saya pasti bermimpi. Tidak selalu ingat sih tapi pasti saya bermimpi. Dan saya jadi kecanduan. Dalam arti saya merasa tidur saya tidak sempurna kalau saya tidak bermimpi. Pasti pada saat bangun jadi agak bad mood karena sama sekali tidak bermimpi.

Dan mimpi tadi malam saya adalah salah satu mimpi terbaik (yg saya ingat). Mimpi nikah dengan pacar saya ahahaha. Sebelumnya seharian di kantor memang pembahasan utama sangat lunch break atau saat senggang memang membahas ini. Biasa lah ibu-ibu rempong di kantor kasih komentar ini-itu soal kapan saya menikah. Tidak terlalu menganggap serius tapi kok jadi terbawa sampai mimpi ya ? Ahahaha lucu sekali. Tapi di satu sisi saya seneng sih dengan mimpi itu. :p

Paginya saat sudah sampai kantor saya langsung kepo googling mencari tahu arti mimpi tersebut. Tapi sebelum googling heboh dulu sih sama rekan kantor. Disambut dengan ucapan selamat *ngakak* dan ada juga yg bilang kalau artinya bisa baik bisa buruk. Ketika saya cari di internet KLIK DISINI artinya menyenangkan kok. Dan sampai tulisan ini dibuat saya

Kalau secara logika, mungkin karena malamnya saya khawatir belum dapat kabar dari pacar makanya sampai kebawa mimpi. Tapi arti baik tadi ngga ada salahnya diamini ya mihihihi.

Faqih

Liburan yg menyenangkan selain pergi jalan-jalan adalah tidur seharian ahahaha. Dan di Sukabumi kemarin sepanjang hari hujan. Untungnya tidak ada riwayat banjir.

Di sela-sela hujan, ketika matahari mengintip sedikit, saya dan pacar iseng mengambil beberapa aktivitas keponakan, Faqih Khairy Rahman.

Cilukba !

Cilukba !

Di usia yg baru 1 tahun 7 bulan, Ibunya sedang hamil anak kedua dan lagi-lagi cowok. Semoga sehat selalu ya Teh Dini dan calon adik Faqih.

hap hap hap !

hap hap hap !

Kamu juga sehat terus ya Faqih.

*smoochug*

Liburan Natal Ke Mana ?

Jadi liburan Natal tahun ini ke mana ? Sukabumi!

Ternyata ngga semua pekerja cuti bersama di tanggal 26 Desember. Ada yg tetap masuk kerja seperti halnya pacar saya. Awalnya, kalau H+1 setelah Natal kami sama-sama libur, udah bisa otewe ke Sukabumi dari Rabu malam. Tapi karena cutinya gantian dengan karyawan lain, si pacar masuk kerja deh. Dan rencana mudik pun diundur sampai hari Jumat.

Mudik kali ini kami ngga cuman berdua. Paman dan Bibi pacar serta kedua anaknya ikut bareng kami sekalian liburan sekolah yg cukup lama, dua minggu. Lagian karatan juga ya kalau lama-lama di Jakarta ehehehe.

Pacar menjemput ke kostan sekitar pukul 10 malam dan langsung meluncur ke rumah Paman, Mang Eto, di daerah Bambu Apus. Masuk tol Semanggi dan taraaa… Ngga macet! Hore hore hore! Kalau di sini udah lancar, inshaa Alloh ke sana-sananya juga lancar.

Sampai di rumah Mang Eto pukul 11. Kedua anak Mang Eto, Farhan dan Hadzik sudah terlelap. Maaf ya adek-adek kami kemaleman. Biar ngga macet aja 😁

11.30 bismillah otewe Sukabumi. Dan bener lho, jalanan enak banget seperti doa saya sebelumnya. Alhamdulillah. Mampir bentar beli Starbucks di Rest Area KM 10 Cibubur Square. Parkiran ngga seramai biasanya. Wah, orang-orang emang udah mudik dari kemarin-kemarin. Ada untungnya juga mudik di hari yg telat begini ehehehe.

Jam 2 tepat kami sampai di rumah pacar. Disambut udara dingin Sukabumi yg sangat ngangenin. Untungnya udah ngga hujan. Bisa-bisa saya tidur berlapir 10 selimut *lebay*

Bapak dan Ibu alhamdulillah sehat, walaupun Ibu masih mengeluhkan sakit karena cacar ular yg menyerang sejak 3 minggu lalu. πŸ˜₯

Dan di sini saya sekarang. Kamar depan super nyaman bersiap memejamkan mata dan merajut mimpi.

Selamat malam dan selamat liburan.

Pindah Kostan (lagi)

Libur Natal tahun ini sebenarnya sangat cocok sekali buat mudik. Lumayan lho liburnya dari hari Kamis. Bisa di rumah 4 hari kan nyenengin banget. Tapi apa daya ya, berhubung sok kepedean bakal tetep dapet tiket walopun belinya mepet, akhirnya ngga jadi mudik karena tiket habis huhuhu. Untunglah Jumat malam bisa tetep liburan ke Sukabumi, kampung halaman pacar.

Dan tadi malam saya “mendadak” pindah kostan (lagi). Ya ngga mendadak juga sih. Udah lama cari-cari kostan yg deket kantor, alhamdulillah ketemu yg cuman butuh jalan kaki ke kantor kurang lebih 15 menit.

Kostan yg sekarang jadi kost yg keberapa ya ? Ahahaha. Wait, saya hitung dulu. Kost ke-7 selama saya tinggal di Jakarta. Dan saya baru di Jakarta sejak tahun 2011 akhir. Baru 3 tahun! Agak fantastis kali ya, rerata setahun saya pindah kost 2 kali ehehehe.

Harapannya sih yg sekarang jadi kost yg terakhir. Semoga tahun depan udah ngga nge-kost lagi. Lha kenapa? Inshaa Alloh kan tahun depan mau married amiiiinn… Semoga bisa beli rumah/apartment ya. Ah, ini jadi #Resolusi2015 deh.

If there is a will, there is a way.